Banten Sebelum Islam


BANTEN SEBELUM ISLAM

A. TINGKAT KEHIDUPAN MASA PRASEJARAH


Wilayah Banten yang terletak di ujung barat pulau Jawa, tepatnya antara 105°6` sampai 106°46` BT dan 5°46` sampai 7°1` LS. Dikelilingi Laut Jawa di sisi utara, Selat Sunda di sisi barat dan Samudra Hindia di sisi selatan. Pulau-pulau di sekitarnya antara lain: Pulau Panaitan, Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang, Pulau Dua, Pulau Deli dan Pulau Tinjil. Secara administratif kepemerintahan melingkupi daerah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.

Berdasarkan keadaan lingkungan alamnya, daerah Banten dapat dibagi menjadi empat, yaitu:

1. Daerah pantai;
2. Daerah pedataran dan kaki perbukitan;
3. Daerah Gunung Karang, Gunung Salak, Gunung Gede Gunung Honje, Gunung Polasari dan Gunung Batur;
4. Daerah pegunungan.

1). Daerah pantai

Daerah pantai merupakan daerah yang kering dan tidak subur, meliputi daerah pantai utara sekitar Teluk Banten, pantai Pontang, pesisir Tangerang, dan pantai Selat Sunda. Seperti umumnya daerah-daerah pantai utara Jawa, di daerah pantai ini banyak sungai-sungai bermuara dan banyak membawa lumpur hasil erosi dari daerah pedalaman. Banyaknya pengendapan lumpur di daerah pantai ini menyebabkan garis pantai makin bergeser ke arah laut. Daerah ini berketinggian kurang dari lima meter di atas permukaan laut. Curah hujan rata-rata kurang dari 1500 milimeter/tahun. Karena tanahnya tidak subur, maka tanah persawahan sangat sedikit dan kebanyakan digunakan untuk tambak pemeliharaan ikan dan ditanami palawija dan kelapa.

2) Daerah pedataran dan kaki perbukitan

Daerah ini meliputi wilayah-wilayah Kota Cilegon, Kabupaten Serang utara dan timur, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang. Tanahnya merupakan tanah pedataran yang sangat luas (hampir meliputi 50% dari seluruh wilayah Kabupaten Serang dan Tangerang) dengan sedikit daerah kaki perbukitan di sebelah selatannya. Berketinggian kira-kira 100 meter dari permukaan laut. Curah hujan rata-rata 1500 - 2000 milimeter/tahun. Daerah ini merupakan daerah pertanian yang sangat luas dan subur.


3) Daerah Gunung Karang, Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Honje, Gunung Polasari dan Gunung Batur

Daerah ini merupakan daerah bergunung walaupun letaknya di daerah pantai. Tanahnya sangat subur. Berketinggian sampai 600 meter di atas permukaan laut dan merupakan daerah perkebunan. Curah hujan rata- rata 1500 - 2000 milimeter/tahun.

4) Daerah pegunungan

Daerah ini merupakan tanah pesawahan dan perkebunan yang sangat subur dan meliputi wilayah selatan Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Berketinggian 200 - 2000 meter di atas permukaan laut. Curah hujan di daerah ini cukup tinggi, rata-rata 2000 - 3000 milimeter/tahun.

Rekonstruksi tingkat kehidupan prasejarah di wilayah Propinsi Banten, mungkin harus ditarik paling tidak ke bentang waktu antara 10.000 - 5.000 tahun lalu, sebagaimana acuan bukti-bukti hadirnya bekas-bekas habitasi kelompok-kelompok manusia di wilayah ini. Titimangsa tersebut boleh bersifat hipotetis dan sangat sementara, mengingat di wilayah Banten selain ditemukan sisa-sisa teknologi tingkat kehidupan masa bercocok tanam, juga ditemukan sisa-sisa budaya gua, dan tradisi pembuatan alat-alat batu inti dan serpih bilah di Cigeulis, Pandeglang.

Salah satu hal yang agak kurang menguntungkan dalam kajian tingkat kehidupan masa prasejarah di wilayah Banten, adalah masih kurangnya penelitian arkeologi secara intensif dan berkesinambungan di wilayah dimaksud. Penelitian-penelitian belum dilakukan secara menyeluruh dan masih bersifat sepotong-sepotong.

Pada Kala Plestosin (± 3 juta – 10.000 tahun sebelum Masehi) dimana terjadi penurunan drastis suhu bumi sehingga es yang biasanya hanya ada di daerah kutub telah meluas, dan permukaan air laut turun drastis, disamping terjadi pengangkatan daratan sehingga juga terbentuk gunung/ pegunungan baru. Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan menjadi satu dataran dengan benua Asia dan Eropa, yang disebut dengan paparan Sunda (Sunda shelf), sedangkan pulau-pulau di bagian timur Indonesia bersatu dengan Australia yang disebut paparan Sahul (Sahul shelf). Masa inilah yang diduga sebagai masa penyebaran penduduk Nusantara. Baru setelah adanya perubahan iklim yang diikuti dengan pencairan es, pulau-pulau tersebut menjadi terpisah oleh lautan. Selat Sunda yang dulunya merupakan sungai besar, berubah menjadi selat yang memisahkan Sumatra dan Jawa. Dengan ditemukannya singkapan endapan tanah formasi plestosen di Banten, maka diyakini bahwa daerah ini muncul semasa dengan munculnya benua Asia (Kartodirdjo, 1975: 33).

Secara umum, perkembangan budaya manusia pada masa prasejarah digambarkan berupa 3 tahapan yang masing-masing memiliki ciri tertentu: masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa kemahiran teknik (perundagian). Masa berburu dan mengumpulkan makanan, ditandai dengan kepandaian berburu binatang hutan, menangkap ikan, kerang dan siput di lat atau di sungai dan mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya, misalnya umbi-umbian seperti keladi, buah-buahan atau biji-bijian dan daun-daunan. Hidup berburu dan mengumpul makanan adalah cara hidup yang pokok pasa masa itu. Mungkin merekapun telah mengenal pertanian, walau dengan cara yang sangat sederhana dan dengan cara berpindah-pindah sesuai dengan kesuburan tanah dan alam lingkungannya. Biasanya mereka sudah mempunyai tempat tinggal di goa-goa alam di dekat sumber air atau sungai walau tidak tetap. Mereka akan berpindah tempat apabila keadaan alam atau persediaan makanan sudah makin berkurang. Dalam hal alat-alat penopang hidupnya pun sangat sederhana yang dibuat dari batu, tulang ataupun bambu, berupa batu atau tulang yang ditajamkan, seperti kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, kapak genggam dan alat serpih. Dalam keadaan yang lebih maju, mereka juga membuat mata anak panah yang terbuat dari batu atau tulang yang diberi gerigi untuk keperluan berburu binatang. Walaupun mereka sudah hidup berkelompok, namun dalam ukuran yang sangat sederhana, tergantung dari keadaan tempat yang ditinggalinya. Peninggalan masa ini di Banten dapat ditemukan di Cigeulis, Pandeglang berupa kapak perimbas, kapak penetak, pembelah dan serpih bilah. Di Sanghiyang Sirah, Ujung Kulon juga ditemukan lukisan gua yang kemungkinan besar dibuat oleh penghuni gua pada masa itu.

Masa kehidupan bercocok tanam (neolitik), masa ini ditandai dengan mulai cara hidup menetap di suatu perkam-pungan yang terdiri dari tempat-tempat tinggal sederhana yang didiami secara berkelompok oleh beberapa keluarga. Populasi mulai meningkat, dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan mulai diatur antar anggota masyarakat. Kegiatan bercocok tanam, pemeliharaan hewan ternak sudah mulai dibiasakan di samping kegiatan berburu dan menangkap ikan masih terus dilakukan. Unsur kepercayaan dalam kehidupan perkampungan sangat dipentingkan untuk membina, mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan dalam hidup bersama. Pemujaan kepada benda-benda alam yang besar seperti gunung-gunung, matahari, bulan, laut, pohon-pohon besar, arwah nenek moyang yang dianggap sakti dan keramat yang akan dapat menolong dan mencegah kemurkaan alam menjadi dasar kepercayaan mereka. Teknologi pembuatan pakaian, gerabah (alat yang dibuat dari tanah liat), alat-alat kerja, dan perhiasan mulai dikenal; pembuatan alat berburu seperti kapak, beliung persegi dan mata tombak atau anak panah mulai ditingkatkan dengan diasah halus dan spesifik. Pada tahun 1980 ketika Departemen Pekerjaan Umum melaksanakan perluasan dan perbaikan irigasi DAS Cibanten Hilir tepatnya di plot Kampung Odel, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang sekitar 2 km di selatan Masjid Agung Banten, ditemukan berbagai benda berciri prasejarah, seperti serpih, bilah, alat batu inti, beliung persegi, belincung, fragmen gerabah "cord-marked", manik-manik, fragmen gelang dan cincin perunggu, yang seluruhnya bercampur dengan temuan-temuan yang berciri Banten-Islam.

Hasil survey dan ekskavasi yang dilakukan di Karadenan, Odel dan Kenari yang masih termasuk DAS Cibanten, memperlihatkan jenis-jenis temuan sebagai berikut:

alat batu 186 buah
tatal batu 600 buah
batu apung 9 buah
pecahan batu (chunk) 17 buah
pecahan gerabah 5.280 buah
pecahan keramik 581 buah
manik-manik 43 buah
k a c a 24 buah
fragmen logam 29 buah
fragmen tulang 73 buah
fragmen gigi 17 buah

Dari ketiga plot penelitian di sepanjang DAS Cibanten Hilir tersebut, terlihat akumulasi data yang menampakkan kecenderungan membentuk pola linear, yaitu pola huni di sepanjang aliran sungai. Sungai merupakan lingkungan mikro yang dianggap penting, baik sebagai prasarana transportasi atau pun sumber daya untuk keperluan industri, rumah tangga dan sebagainya.

Mengingat salah satu kondisi situs telah teraduk, yang berdampak tercampurnya unsur-unsur budaya berciri prasejarah dan Banten-Islam, menimbulkan permasalahan apakah situs Odel merupakan situs prasejarah yang kemudian langsung sinambung dengan situs Banten-Islam, ataukah situs Odel merupakan multi component-site. Apabila sebagai situs yang berkesinambungan, diasumsikan akan ditemui tingginya tingkat persamaan dalam perbandingan unsur-unsur budaya prasejarah dan Banten-Islam. Namun pada kasus situs Odel ini, yang dijumpai adalah tingginya tingkat perbedaan kedua budaya tersebut, yang mana ini berarti bahwa situs Odel di DAS Cibanten Hilir merupakan multi component-site.

Pada tingkat kehidupan berikutnya, wilayah Banten memasuki masa proto sejarah yang antara lain ditandai oleh kehadiran, pembuatan dan penggunaan benda-benda logam, yang secara tipologis di masa-masa lalu sering dikaitkan dengan Budaya Dongson. Penemuan berbagai kapak perunggu tipe kapak corong di Pamarayan, Kopo, Pandeglang, Cikupa dan Cipari. Selain itu ditemukan pula benda-benda perunggu dan besi dari jenis senjata dan alat-alat pertanian, menunjukkan jenis penggunaan dan pengenalan terhadap teknologi pembuatan benda-benda logam itu sendiri.

Salah satu temuan penting ialah sebuah nekara perunggu dari Banten dengan tipe Heger IV. Seperti halnya penemuan nekara dari Waleri (Jawa Tengah), maka temuan nekara tipe Heger IV ini termasuk langka di Indonesia, karena biasanya yang ditemukan adalah nekara-nekara tipe Heger I (Soerjono et al, 1984: 246).

Nekara tipe Heger IV berbentuk seperti dandang terbalik, bagian atas datar dan bagian bawah terbuka. Nekara ini mempunyai bidang pukul menutup badan nekara, bahu berbentuk cembung dan bagian tengahnya hanya sedikit membentuk cekungan pinggang dan selanjutnya melurus ke bawah. Pada nekara ini tampak bentuk seolah-olah bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Tipe ini juga disebut dengan tipe Cina.

Proto-sejarah wilayah Banten semakin lengkap dengan ditemukannya situs yang mengandung sistem penguburan di Anyer. Tempayan kubur Anyer berisi tulang belulang manusia yang mayatnya dikuburkan secara primer beserta benda-benda gerabah dan atau perunggu yang berfungsi sebagai "bekal kubur". Situs Anyer ditemukan pada tahun 1954, dan pada tahun berikutnya (1955) diselidiki oleh Hendrik Robert van Heekeren dan Basuki, dan baru pada tahun 1980-an dilanjutkan penelitiannya oleh Haris Sukendar dan Joyce Ratna Indraningsih. Diduga kebudayaan demikian adalah sisa dari kebudayaan megalitik tua (4500 - 2500 SM) yang berkembang di sana.

Benda-benda gerabah dari situs Anyer belum banyak diperoleh sebagai sample penelitian. Di antaranya adalah sebuah cawan berkaki (pedupaan) seperti yang ditemukan pada situs-situs kompleks budaya Buni (Jawa Barat Timur), serta sebuah kendi tanpa cerat berleher panjang, tanpa hiasan. Tempayan dan benda gerabah Anyer, pada umumnya merupakan gerabah berwarna coklat kehitaman dan diupan. Masa perkembangan gerabah Anyer diduga antara 200 - 500 Masehi.

Di antara masa-masa akhir neolitik-perundagian (logam awal), bahkan sampai pada masa sejarah, tumbuh dan berkembang budaya dan tradisi megalit, yang beresensi pada kultus/pemujaan leluhur, yang diwujudkan melalui pendirian bangunan-bangunan batu, baik secara mengelompok (kompleks) maupun individual.

R. von Heine Geldern (1945: 151), menganggap bahwa tumbuh-berkembangnya budaya megalit ke Indonesia berlangsung dalam dua aliran, yakni:

1) Megalit tua; yang dalam perkembangannya dibawa oleh aliran etnik atau kultural, yang datang pada tingkat kehidupan bercocok tanam, dengan komunitas manusia yang memperkenalkan budaya beliung persegi. Budaya ini berlangsung antara 2.500 - 1.500 SM, dengan memperkenalkan adat pendirian menhir[1] (tunggal maupun kelompok), dolmen [2] (bukan berupa kuburan), pelinggih batu, undakan batu[3], patung-patung simbolik monumental, dan lain-lain.

2) Megalitik muda; rangkaian migrasi yang berlangsung pada masa berkembangnya kebudayaan Dongson[4] dan Logam Awal, memperkenalkan adat pendirian kubur peti batu, kubur dolmen, sarkopagus[5] dan kubur bejana batu (stone vats).

Menurut Rumbi Mulia (1980: 609), penemuan-penemuan bangunan arca/area megalit di wilayah Banten, antara lain ditemukan di:

1) Tenjo, Pandeglang: arca dengan teknik pahat dasar, seluruh bagian utama tubuh lengkap, bentuk-bentuk dan ukuran mata, telinga tidak proporsional. Arca ini sekarang disimpan di Museum Nasional (Inv. no. 480n), digambarkan dalam posisi duduk.

2) Candi, Lebak: bangunan megalit dengan 11 arca di atasnya, yang seluruhnya kini disimpan di Museum Nasional (Inv. No. 4222 s/d 4232).

3) Kerta, Parengkujang, Lebak: ditemukan arca dari batu tanah liat (clay-stone), disimpan di Museum Nasional (Inv. No. 3865).

4) Kosala, Lebak: bangunan berundak dan di dekatnya ditemukan arca yang dikenal sebagai arca Kosala, pahatan menggambarkan posisi sedang duduk.

Bangunan megalit Kosala dan Arca Domas mem-perlihatkan adanya hubungan dengan orang-orang Baduy yang kini hidup meng-isolir diri di daerah Banten Selatan. Monumen-monumennya berupa bangunan batu berundak lima tingkat, dan pada setiap undak terdapat menhir (Soejono et al., 1984: 219). Dalam kompleks tersebut dijumpai batu berbentuk segi lima, di bagian bawah yang tertanam dalam tanah terdapat sejumlah batu bulat bergaris tengah antara 10 - 15 cm.

Di situs ini pula terdapat arca kecil melukiskan tokoh yang duduk bersila, ditemukan dekat bangunan berundak. Kedua tangan arca ini digambarkan dilipat ke depan, dan salah satu tangannya mengacungkan ibujari. Arca Domas memiliki 13 undakan batu, dan undak paling atas didirikan sebuah menhir berukuran besar. Menurut kepercayaan orang Baduy, menhir ini merupakan lambang dari Batara Tunggal sang pencipta roh, dan kepadanya pula roh-roh tersebut kembali.

Peninggalan megalit di Lebak Sibedug berupa bangunan berundak empat, yang seluruhnya setinggi 6 meter. Di depan undakan batu ini terdapat lahan datar dan di sini pula terdapat sebuah menhir yang ditunjang batu-batu berukuran kecil.

Bangunan berundak di Kosala, Arca Domas dan Lebak Sibedug tersebut, masih dipuja dan dikeramatkan, dan karenanya bangunan-bangunan megalit di Banten Selatan ini termasuk kategori living megalithic culture, yang berarti benda-benda arkeologi/megalit yang masih berada dalam konteks sistem perilaku pendukungnya.

Hasan Muarif Ambary (1991: 397), menyatakan bahwa peninggalan kolosal bangunan megalitik di Lebak Sibedug (Cibedug) merupakan salah satu prototipe tempat pemujaan tradisi megalit yang umum terdapat di Asia Tenggara. Sementara itu Halwany Michrob (1988) melihat kemungkinan adanya persamaan-persamaan unsur arsitektur Lebak Sibedug dan Arca Domas terhadap berbagai bangunan di Madagaskar dari bagian barat sampai Rupa-nui, P. Paskah, Pekan, Formosa, Campa, Aoteraroa, New Zealand.

Khusus mengenai "orang Baduy" yang masih melakukan pemujaan/pengeramatan Arca Domas dan Lebak Sibedug, sebenarnya terbagi dalam kelompok Baduy Luar yang menghuni habitat seluas ± 2606 ha, dan Baduy Dalam yang menghuni habitat seluas ± 2515 ha, yang seluruhnya berada pada ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut.

Keterpencilan pemukiman orang Baduy, hendaknya dilihat dalam perspektif paling resen/modern. Karena dari perspektif orang Baduy sendiri, "isolasi" (jika pun istilah ini tepat untuk digunakan), sekaligus menampakkan keberhasilan orang Baduy dalam mengelola teknik adaptasi mereka terhadap lingkungan alam di mana mereka hidup dan tinggal.

Penemuan-penemuan unsur bangunan megalit dari wilayah Banten akhir-akhir ini, antara lain menghasilkan informasi mengenai adanya punden berundak di gunung Cupu, jajaran menhir di puncak Gunung Karang, dolmen di situs Sang Hyang Dengdek, menhir (Sirit Bedug) di Pandeglang, dan sebagainya (Michrob, 1988: 18).

Peninggalan prasejarah agaknya pernah ada di sekitar Banten Girang (Banten Hulu), sejak di tempat tersebut di situs itu ditemukan pula keramik Cina yang berasal dari masa Dinasti Han (206 SM - 220 M), serta undakan-undakan di atas gua Banten Girang.

Namun demikian agaknya memang perlu hati-hati dalam menafsirkan periodisasi bangunan-bangunan berundak. Agus Aris Munandar (1992: 284) menyatakan bahwa bangunan berundak di Jawa Barat tidaklah selalu berasal dari masyarakat yang mendukung tradisi megalit, karena ada juga bangunan-bangunan berundak yang dapat dihubungkan dengan kegiatan keagamaan masyarakat kerajaan Sunda (Hindu), bahkan pada periode akhir masa Hindu-Budha di Jawa.

Sebagai contoh bangunan berundak Kosala, yang pada jarak sekitar 100 meter ditemukan sebuah arca. Oleh beberapa sarjana arca tersebut dinyatakan sebagai arca Budha, tinggi 50 cm, dipahat dalam relief tinggi, sikap tangan menunjuk pada mudra tertentu. Menurut Rumbi Mulia (1980: 616-618), arca Kosala ini dihubungkan persamaannya dengan arca perwujudan jaman klasik akhir yang melambangkan pengruwatan, dan mungkin menggambarkan arca leluhur.

Peringatan ini kemudian diulangi oleh Satyawati Suleiman (1992: 318), yang menyatakan bahwa arca-arca tipe Pajajaran yang ditemukan di Jawa Barat memiliki bentuk yang sangat mirip dengan arca-arca yang ditemukan di wilayah Polynesia, maka dahulu arca-arca tipe Pajajaran sering disebut dengan arca tipe Polynesia. Ditambah lagi dengan lokasi penemuan yang seringkali di dekat/sekitar bangunan berundak, maka orang sering pula menafsirkannya sebagai arca prasejarah. Salah satu arca yang pernah disebut dengan tipe Polynesia ini, ada yang berinskripsi angka tahun antara 1263 - 1341 Masehi.

Betapa pun demikian, sungguh jelas bahwa wilayah Banten telah intensif dihuni sejak masa-masa paling tua untuk wilayah ini, yakni sejak masa pertanian awal, mungkin lebih awal lagi sejak masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut, seperti jika benar pada lukisan gua di Sanghiyang Sirah, Ujung Kulon, atau pun alat-alat batu, kulit kerang dan pecahan gerabah yang ditemukan di dasar-dasar gua Kampung Candi, pantai Bojonegara, yang malangnya telah diruntuhkan untuk "pemburuan batu" bagi keperluan pembuatan landasan pacu dan pembangunan bandara Sukarno Hatta.

Jika benar bahwa keramik masa Dinasti Han telah ditemukan di Banten Girang, setidaknya wilayah ini telah terjangkau hubungan internasional, lebih awal dari pertumbuhan komunitas nelayan di pantai utara Bekasi, dimana di komplek budaya Buni pernah ditemukan pecahan gerabah romano-roulette yang bertitimangsa abad-abad I - II Masehi.

Wilayah Banten tumbuh dan berkembangnya tak lepas kait dengan vitalitas Selat Sunda sebagai alur alternatif perdagangan dan pelayaran samudra India - Laut Cina Selatan -- selain melalui Selat Malaka. Kesinambungan habitasi berbagai pusat pemukiman di wilayah Banten, adalah sekedar kelanjutan tradisi mengoptimalkan wilayah-wilayah pemu-kiman yang memiliki daya dukung potensial, sejak masa prasejarah, sejarah dan resen.

B. KESINAMBUNGAN BUDAYA PRA-SEJARAH PADA MASA HINDU-BUDHA DI BANTEN

Ketika turun tirai kehidupan nirleka di wilayah Banten, menyusul kemudian tumbuhnya tata-kehidupan yang mendapat pengaruh anasir-anasir budaya Hinduistik dari India, wilayah Banten telah eksis di panggung sejarah dan tetap memainkan peran sejarahnya dalam dimensi ruang dan budaya. Masa-masa awal berkembangnya anasir-anasir Hinduistis di wilayah Banten, sama halnya dengan bentang waktu kehidupan masa prasejarah, masih belum tergali secara tuntas dan dalam eksplanasi yang belum menyeluruh. Pengungkapan periode awal berkembangnya Hinduisme di wilayah Banten belum banyak didasarkan pada fakta-fakta arkeologis, meski pun beberapa di antaranya memiliki signifikansi hubungan dengan berbagai pusat politik, seperti Tarumanagara dan Pakuan Pajajaran. Salah satu usaha untuk menembus stagnasi dalam rekonstruksi periode-periode ini, antara lain melalui kajian sumber asing.

Tetapi karena kurangnya data-data, kita belum dapat mengetahui apakah mereka pun sudah mengenal bentuk kerajaan. Yang pasti mereka telah mengenal hubungan dengan luar negeri, terutama dengan kerajaan-kerajaan di India dan Asia Tenggara (Ambary, 1977: 447). Bukti-bukti tentang hal ini dapat dilihat dari ditemukannya bangunan berupa pundan berundak di Lebak Sibedug, Banten Selatan, yang merupakan bangunan-pengantar antara bangunan prasejarah dengan candi berundak, seperti Borobudur, yang juga terdapat di beberapa tempat di Asia (Michrob, 1988: 4).

Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa, India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. Peta ini dibuat pada tahun 165 M. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 - 14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi). Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India, Vietnam, ujung utara Sumatra, kemudian menyusuri pantai barat Sumatra, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara, 1978: 21-38).

Hal ini dimungkinkan karena memang menurut penyelidikan Prof. Ir. Anwas Adiwilaga, di Pulau Panaitan pada kira-kira tahun 130 M pernah berdiri satu kerajaan yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Barat. Kerajaan ini bernama Salakanagara (Negeri Perak) dengan pusatnya di kota Rajatapura, yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertamanya bernama Dewawarman I (130 - 168 M). Daerah kekuasaannya meliputi: Kerajaan Agrabinta (di Pulau Panaitan), Kerajaan Agnynusa (di Pulau Krakatau), dan daerah ujung selatan Sumatra. Dengan demikian seluruh Selat Sunda dapat dikuasai Dewawarman I ini, sehingga ia digelari Haji Raksa Gapurasagara (Raja Penguasa Gerbang Lautan) (Yogaswara, 1978:38). Dengan diketemukannya patung Ganesha dan patung Shiwa di lereng Gunung Raksa, Pulau Panaitan, dapatlah diduga bahwa masyarakatnya beragama Hindu Shiwa.

Pulau Panaitan merupakan pulau yang langsung berhubungan dengan Selat Sunda -- yang bersama Pulau Peucang, luasnya sekitar 17.500 Ha -- termasuk kawasan pelestarian/suaka alam Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian geologi di Pulau Panaitan, menunjukkan bahwa pulau ini telah ada sejak ± 26 juta tahun lalu, apabila dilihat dari umur batuan yang paling tua. Pada berbagai singkapan, tampak bahwa pulau ini tersusun dari jenis-jenis batuan andezite, tuffa, gamping dan yang termuda batuan aluvial.

Data arkeologi dari Pulau Panaitan berupa arca Siwa, Ganesha dan lingga semu/lingga patok. Arca Shiwa dari Panaitan pernah raib dicuri, namun kemudian arca tersebut dapat diamankan dan sekarang disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981. Arca ini berukuran tinggi 76,5 cm, lebar dan tebal maksimum 32,5 cm dan 24 cm, dibuat dari batuan andezitik.

Arca Shiwa ini sering dikatakan berbentuk statik dan sederhana, tidak sama dengan penggambaran Dewa Shiwa pada umumnya. Hal lain dari arca ini ialah tangan belakang yang memegang trisula dipahat langsung pada sandaran arca di belakang kepala. Kedua tangan bagian depan bersikap varadamudra dan memegang padma memakai selempang pola pita lebar.

Arca Dewa Shiwa Pulau Panaitan ini bermahkota tanpa candrakapala, mata terpejam, besaran kepala tidak proporsional apabila dibandingkan dengan postur tubuh, dalam posisi duduk di atas nandi yang juga menghadap frontal. Sikap duduknya digambarkan kurang lazim -- bukan yogamudra atau semi-yogamudra -- karena kedua telapak kaki dipertautkan dalam posisi bersila dengan ujung-ujung jari kaki "jinjit" di atas kepala nandi. Arca Siwa tersebut diduga oleh para arkeolog berasal dari abad ke-7 Masehi, suatu abad memuncaknya kesenian Hindu di pesisir utara Jawa Barat (Cibuaya) dan pedalaman (Cangkuang).

Sementara itu, arca Ganesha Pulau Panaitan meski pun digambarkan tanpa mahkota, namun penggambaran bagian-bagian utama/ umum tubuhnya cukup lengkap. Ganesha ini digambarkan dalam ukuran tidak proporsional, duduk di atas batur. Belalainya menjuntai kemudian lengkung ke arah tangan kiri. Sedangkan pada lingga semu tidak didapati atribut sebagai salah satu lambang emanasi Shiwa, sehingga lingga Pulau Panaitan ini dianggap berfungsi sebagai patok batas tanah.

Kehadiran anasir-anasir budaya Hinduistis di Pulau Panaitan, mengarahkan pemikiran bahwa pulau ini amat boleh jadi pernah jadi pulau tempat persinggahan para pelayar/musafir, atau lebih buruk lagi sebagai pulau tempat terdamparnya kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda. Beberapa di antara para pelayar itu diduga beragama Hindu Shiwa, yang terutama memuja Dewa Shiwa, Ganesha dengan segala atributnya. Shiwa dikenal sebagai dewa penguasa dan perusak alam, sementara Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan serta pembantu memecahkan halangan/ persoalan.

Bukti-bukti arkeologi masa Hindu_Indonesia di Banten antara lain juga tampak pada jajaran/kelompok lingga di Baros (Serang), lingga di Pulau Handeuleum, lingga dan yoni di situs Sang Hyang Heuleut, dan arca nandi di Karangantu. Hinduisme di wilayah Banten agaknya memang berpuncak dan berpusat di Banten Girang, ketika menjadi Kawasan Prabu Pucuk Umun, salah satu bawahan Pakuan Pajajaran yang beribukota di Bogor.

Situs Banten Girang terletak di tepi sungai Cibanten berjarak 13 km dari Banten Lama. Di tempat ini masih memperlihatkan beberapa temuan arkeologis, yang menampakkan ceruk (gua) pertapaan, benteng keliling, saluran yang mengelilingi benteng (nampak setelah diekskavasi), makam Ki Jong dan Mas Jo, serta sejumlah temuan artefak yang tersebar hampir di seluruh situs, seperti: mata-kail, bandul jaring, uang kepeng, pecahan keramik lokal dan keramik asing (Ming, Yuan, Song, Swankalok dan sebagainya), perhiasan emas, manik-manik, serta berbagai fragmen alat dari logam. Hal ini menunjukkan bahwa pada masanya Banten Girang merupakan suatu area kota yang penting.

Dalam penelitian Ambary (1985), dilihat dari tipe nisan dan artefak kijing yang dipakai dalam makam kuno Ki Jong dan Mas Jo di Banten Girang, maka dalam tipologi nisan makam Islam dimasukkan kelompok tipe Demak-Troloyo. Selanjutnya, Montana (1988:71) mencatat kekunoan situs ini dari gundukan tanah sekitar 300 meter di sebelah utara makam, yang ternyata di bawah permukaannya terdapat batu berundak, dan di bawah batu berundak itu lah terdapat dua buah gua ceruk di tebing padas sebelah timur Cibanten. Apabila dilihat dari tipologi ceruk-ceruk/gua yang ada di sana, paling tidak Banten Girang telah muncul pada sekitar abad XI-XII M (Guillot, 1990: 12). Lebih menarik lagi, dari data babad, Banten Girang masih difungsikan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (abad XVII), dimana pada waktu-waktu tertentu sultan berwisata dengan kegiatan memancing ikan di tempat itu. Dan menurut keterangan Caeff, di tempat ini Sultan Tirtayasa menyuruh membuatkan sebuah istana sebagai tempat mengungsi kaum wanita di masa perang (Djajadiningrat, 1983: 125).

Dari penelitian arkeologis tahun 1989, 1990, 1991 dan 1992 Lukman Nurhakim (1992) berhasil mengungkap berbagai aspek penting dari situs Banten Girang. Tempat ini merupakan situs pemukiman dalam skala kota pra-industri, yang dikelilingi benteng dari tanah -- baik pada sisi dalam maupun luar tanggul -- untuk keperluan pertahanan. Tanggul tanah sebagai benteng di Banten Girang, sebagaimana halnya di situs-situs lain, sudah dikenal luas baik pada masa prasejarah akhir dan klasik, yang kemudian berlanjut pada kota-kota kuno periode Indonesia-Islam; seperti di Pugung Raharjo (Lampung), Pasir Angin (Bogor),Aceh, Barus (Sumatra Utara), Rao (Sumatra Barat), Muara Takus (Riau), Muara Jambi (Jambi), Biting (Lumajang), dan Surosowan (Banten, Serang).

Dari hasil ekskavasi diketahui bahwa situs Banten Girang berfungsi sebagai: (a) pusat pemukiman -- terlihat dari banyaknya sebaran artefak, teknofak dan sosiofak, (b) pusat upacara -- adanya dua gua persemedian/pemujaan, dan (c) benteng untuk melindungi keduanya. Selanjutnya, Lukman Nurhakim memandang adanya fase-fase kehidupan di Banten Girang yang meliputi:

1) Fase I; fase subordinasi Pakuan-Pajajaran dimana gua dijadikan pusat upacara keagamaan bercorak Hinduistik (Hindu-Budha);

2) Fase II; fase pendudukan/ administrasi politik Islam masa Maulana Hasanuddin;

3) Fase III; fase surutnya Banten Girang karena pusat administrasi politik dipindahkan ke Banten Lama di pesisir, tetapi Banten Girang masih tetap digunakan bahkan sampai masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1652 - 1671), sultan Banten kelima;

4) Fase IV; fase akhir, ketika Banten Lama sudah dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1815, dimana diduga frekwensi penggunaan Banten Girang semakin menurun;

5) Fase V; fase resen, okupasi lanjut oleh penduduk Banten Girang masa sekarang yang digunakan untuk lahan pertanian dan lahan pemukiman.

Melalui perbandingan dengan berbagai bentuk fisik benteng di berbagai tempat, atas dasar penemuan keramik masa Dinasti Han (206 SM - 220 M) dan struktur berundak di atas gua dan lingkungan benteng, amat boleh jadi okupasi Banten Girang sudah berlangsung lama sekali, bahkan sejak ketika berlangsung masa kehidupan prasejarah dan proto-sejarah.

Dengan ditemukannya Prasasti Munjul, yang terletak di tengah Sungai Cidangiang, Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, berita tentang Banten dapat lebih diperjelas lagi. Prasasti ini, yang diperkirakan berasal dari abad V, bertuliskan huruf Pallawa dengan bahasa Sanksekerta antara lain berbunyi:

vikrantayam vanipateh
prabbhuh satyaparakramah
narendraddhvajabutena crimatah
purnnavarmmanah

Terjemahannya:
(ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termashur Purnawarman

Prasasti ini menunjukkan bahwa bahwa daerah kuasa Tarumanagara sampai juga ke Banten, dan diceritakan pula bahwa negara pada masa itu dalam kemakmuran dan kejayaan.

Berita atau sumber-sumber sejarah mengenai Banten dari masa sebelum abad ke-16 memang sangat sedikit kita temukan. Tapi setidak-tidaknya pada abad XII-XV, Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Pajajaran.

Untuk selanjutnya keadaan Banten dari abad VII sampai dengan abad XII tidak ditemukan berita sejarah yang meyakinkan. Demikian juga, tidak diketahui siapakah penguasa daerah Banten waktu itu, padahal benda-benda peninggalan dari masa itu sudah banyak ditemukan.

Berita tentang Banten baru muncul kembali pada awal abad XIV dengan diketemukannya prasasti di Bogor. Prasasti ini menyatakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, dan Banten sampai awal abad XVI termasuk daerah kekuasaannya (Ambary, 1980: 447). Memang, Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan besar, yang daerah kuasanya meliputi: seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon, ditambah pula daerah Tegal dan Banyumas sampai batas Kali Pamali dan Kali Serayu.

Daerah-daerah ini dibagi dalam empat Kerajaan bagian yang merupakan wilayah otonom, yaitu:


1) Kerajaan Indramayu; dikuasai oleh Prabu Indra Kusumah.


2) Kerajaan Raja Galuh; dikuasai oleh Prabu Cakraningrat.


3) Kerajaan Luragung; dikuasai oleh Prabu Luragung.


4) Kerajaan Talaga; dikuasai oleh Prabu Pucuk Umun, salah seorang putra Prabu Siliwangi.

Kerajaan-kerajaan bagian tersebut mempunyai kuasa penuh atas daerahnya sendiri. Raja Pajajaran hanya menuntut pengakuan kekuasaan dipertuan oleh kerajaan-kerajaan tersebut. Untuk membuktikan kesetiaannya itu, setahun sekali mereka diharuskan membawa kuwerabakti serta sowan ke ibukota Kerajaan Pajajaran. Kuwerabakti ini berupa barang-barang keperluan upacara keagamaan serta kebutuhan sehari-hari.

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesyan memberi-kan keterangan-keterangan yang cukup jelas mengenai adanya kelompok masyarakat kerajaan Sunda sebelum Islam. Kelompok itu tidak disebutkan berdasar tata jenjang di dalam sistem birokrasi pemerintahan; pembagiannya didasarkan kepada fungsi yang dimiliki masing-masing kelompok tersebut. Oleh sebab itu, dijumpai adanya kelompok rohani dan cendekiawan, kelompok alat negara, dan kelompok ekonomi yang kemudian terbagi ke dalam beberapa golongan.

Kelompok rohani dan cendekiawan terdiri dari memen (=dalang) yang mengetahui berbagai lagu dan nyanyian, hempul yang mengetahui berbagai macam permainan, prepantun yang me-ngetahui berbagai macam pantun dan ceritera, marangguy yang mengetahui berbagai macam ukiran ukiran, pangoyok yang me-ngetahui berbagai macam pakaian, paratanda yang mengetahui berbagai macam tingkat dan kehidupan keagamaan, berahmana yang mengetahui berbagai macam mantra, janggan yang mengetahui berbagai macam pertanda zaman, pandita yang mengetahui berbagai macam buku pustaka keagamaan, paraloka yang mengetahui berbagai macam tingkah para dewa, juru basa darmamurcaya yang mengetahui berbagai macam bahasa yang diketahui orang pada masa tersebut (=juru bahasa), dan barat katiga peramal cuaca?. Disamping itu, ada kelompok yang sama sekali tidak jelas identitasnya, seperti belamati, juru moha. Semua kelompok masyarakat yang disebutkan itu, di dalam melaksanakan dharma atau tugas masing-masing sesuai dengan fungsinya, disebut ngawakan tapa di nagara (=melaksanakan tapa di tengah negara).

Kelompok masyarakat berdasarkan ekonomi antara lain


pangalasan (=orang utas),


juru lukis (=pelukis),


pande dang (=pandai tembaga, pembuat perabot dari tembaga),


pande mas (pandai mas),


pande glang (=pandai gelang),


pande wesi (=pandai besi),


guru wida(ng) medu wayang (=pembuat wayang),


kumbang gending (=penabuh gamelan, pembuat gamelan?),


tapukan (=penari),


banyolan (=pelawak),


pahuma (=peladang),


panyadap (=penyadap),


panyawah (=penyawah),


panyapu (=penyapu),


pamanah (pemanah),


pangulang desa calagara (=pemungut pajak di pelabuhan),


rare angon (=penggembala),


pacelengan (=peternak babi),


pakotokan (=peternak ayam),


palika (=nelayan, penangkap ikan),


pretolom (=penyelam),


pahuwang (=pawang, pelaut),


harop catra (=juru masak).

Kelompok masyarakat yang bertugas sebagai alat negara ialah

mantri (=menteri),


bayangkara (=penjaga keamanan),


prajurit (=prajurit, tentara),


pam(a)rang (=pemerang, tentara),


nu nangganan (=nama jabatan di bawah mangkubumi).


Kepala prajurit disebut hulu jurit.

Yang tidak kurang menariknya ialah keterangan yang menyatakan bahwa di kerajaan Sunda juga sudah terdapat orang-orang yang memperoleh penghasilan dengan jalan yang tidak disukai masyarakat umumnya. Pekerjaan itu ialah antara lain

meor (=?),


ngodok (=merogo, mencopet?),


nyepet (=mencopet?),


ngarebut (=merebut),


ngarogoh (=merogoh saku),


papanjingan (=memasuki (rumah orang, mencuri),


maling (=mencuri),


dan ngabegal (=membegal).

Pekerjaan seperti itu termasuk cekap carup, sesuatu yang pantang diturut, dan hal-hal seperti itu disebut sebagai guru nista, yaitu hal-hal yang dianggap sangat nista atau hina.

Ibukota Kerajaan Sunda/Pajajaran ini disebut dengan nama Pakwan atau menurut berita dari Barros -- seorang pelaut Portugis -- dengan nama Daio/ Dayo (Djajadiningrat, 1983: 84). Kota Pakwan/Pakuan ini terletak kira-kira di daerah Bogor sekarang. Agama yang dianut oleh raja dan rakyat Pajajaran adalah agama Hindu-Budha. Dan untuk penyembahan terhadap dewa-dewanya, mereka banyak mendirikan kuil dan biara. Di antaranya ada biara yang dikhususkan untuk menampung wanita- wanita yang ditinggal mati suaminya -- tetapi tidak mau dibakar bersama jenazah suaminya, dan ada juga biara untuk wanita tua yang belum mendapatkan suami (Djajadiningrat, 1983:84).

Bandar-bandar kerajaan Sunda, oleh Tome Pires, inspektur pajak Portugis di Malaka yang ikut dalam ekspedisi ke Pulau Jawa (1512 - 1515) digambarkan sebagai berikut:

1) Banten, merupakan sebuah kota niaga yang baik, terletak di tepi sebuah sungai. Kota ini dikepalai oleh seorang Kapten (=Syahbandar?), sedangkan wilayah niaganya mencapai Sumatra dan bahkan kepulauan Maladewa. Pelabuhan Banten merupakan pelabuhan besar dan merupakan pula bandar untuk beras, bahan makanan, dan lada.

2) Pondang (Pontang?), merupakan sebuah kota yang besar, tetapi pelabuhannya tidak sepenting Banten. Jalur niaga dan barang- barang yang diperdagangkannya sama dengan Banten.

3) Cheguide (Cikande?), juga sebuah kota besar. Perniagaan dari bandar ini dilakukan dengan Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung, dan lain-lain. Barang dagangannya sama dengan Banten dan Pondang.

4) Tangaram (Tangerang), yang merupakan kota besar, barang dagangannya juga sama dengan bandar-bandar yang disebutkan terdahulu.

5) Calapa (atau Xacatra = Jakarta, merurut Joao de Barros), merupakan sebuah kota yang sangat besar, serta terbaik. Hubungan niaganya juga lebih luas, antara lain dengan Sumatra, Palembang, Lawe, Tanjungpura, Malaka, Makasar, Jawa dan Madura. Pelabuhan ini letaknya kira-kira dua hari perjalanan dari ibukota kerajaan Pajajaran, yang disebut Dayo (=dayoh, kota), tempat raja bersemayam. Para pedagang dari seluruh kerajaan (Pajajaran) selalu berdatangan ke Kalapa. Pelabuhan ini diperintah secara teratur, lengkap dengan hakim dan klerek. Raja mengeluarkan peraturan tertulis untuk setiap pelanggaran yang dilakukan penduduk setempat.

6) Chi Manuk/ Chemano (Cimanuk), merupakan bandar kerajaan Sunda yang paling timur, sekaligus sebagai batas kerajaan. Walaupun bandar itu dikatakan sebagai bandar yang besar dan cukup ramai, tetapi jung tidak dapat merapat. Di Cimanuk, sudah banyak berdiam orang-orang yang beragama Islam, walaupun syahbandarnya sendiri beragama Sunda (Cortessao, 1944: 166-173).

Di samping memiliki bandar pelabuhan yang cukup ramai, seperti yang disebutkan di atas, kerajaan Sunda juga memiliki jalan lalulintas darat yang cukup penting, yang sedemikian jauh sedikit sekali diketahui oleh para pedagang asing di masa yang lebih kemudian. Jalan darat itu, ada dua jurusan yang semuanya berpusat di Pakuan Pajajaran; satu menuju ke arah timur, dan yang lainnya menuju ke arah barat.

Jalan yang menuju ke timur, menghubungkan Pakuan dengan Karangsambung yang terletak di tepi Cimanuk -- batas kerajaan di sebelah timur -- melalui Cilongsi dan Cibarusa, lalu dari sana, membelok ke arah utara sampai di Karang, di tepi Citarum (desa Tanjungpura). Dari Tanjungpura, ada sambungannya melalui Cikao dan Purwakarta, kemudian berakhir di Karangsambung (Dam, 1957: 299). Barangkali dari Karangsambung jalan itu masih ada terusannya ke arah timur dan selatan. Yang ke timur sampai Cirebon, lalu berbelok ke selatan lewat Kuningan, dan akhirnya sampai di Galuh dan Kawali. Sedangkan jalan satunya lagi, dari Karangsambung ke arah selatan, melalui Sindangkasih dan Talaga sampai di Galuh dan Kawali. Jalan lainnya yang menuju ke barat, bermula dari Pakuan Pajajaran melalui Jasinga dan Rangkasbitung, menuju Banten Girang (girang = hulu)[6] dan berakhir di Banten yang merupakan bandar kerajaan Sunda yang paling barat. Jalan darat lainnya dari Pakuan Pajajaran menuju Ciampea dan Rumpin, berakhir di situ, karena perjalanan selanjutnya dilakukan dengan melalui sungai Cisadane, -- yang memang cukup baik alirannya sejak muara Cianten -- menuju ke Pontang, Cikande dan Tangerang (Dam, 1957: 297). Melalui jalan-jalan darat dan sungai itulah hasil bumi kerajaan Pajajaran diangkut, dan melalui jalan yang sama itu pula keperluan penduduk di pedalaman dikirimkan.

Untuk ke Kalapa, dipakai jalur sungai Ciliwung yang dapat dilayari dari Pakuan dalam waktu dua hari. Karena itulah Pelabuhan Kalapa dapat dianggap gerbang masuk ke Pakuan (Ayathrohaedi, 1979: 336).

Pada awal abad XVI, yang berkuasa di Banten adalah Prabu Pucuk Umun[7] dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang (Ambary, 1982: 2). Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten, dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari (Ayathrohaedi, 1976 : 37), disamping masih ada jalan darat yang melalui Klapadua (Djajadiningrat, 1983 : 124).

Pada waktu Tome Pires mengunjungi Banten pada tahun 1513, Banten merupakan pelabuhan yang belum begitu berarti, tetapi sudah disebutkan sebagai pelabuhan kedua terbesar dari kerajaan Sunda setelah Kalapa. Hubungan dagang telah banyak dilakukan antara Banten dengan Sumatra, dan juga Maladewa. Pada waktu itu, Banten sudah merupakan pelabuhan pengekspor beras, bahan makanan dan lada (Cortessao, 1941: 168-169; Melink - Roeslofsz, 1962: 124). Sedangkan sekitar tahun 1522 Banten sudah merupakan pelabuhan yang cukup berarti, yang setiap tahunnya kerajaan Sunda mengekspor 1000 bahar lada melalui pelabuhan Banten dan Kalapa (Chijs, 1881: 4).

Ketika kerajaan Islam berdiri, pusat kekuasaan di wilayah ini, yang semula berkedudukan di Banten Girang, dipindahkan ke kota Surosowan, di Banten Lama dekat pantai. Dari sudut politik dan ekonomi, pemindahan ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir Utara Jawa dengan pesisir Sumatra, melalui Selat Sunda dan Samudra Indonesia. Situasi ini berkaitan dengan kondisi politik Asia Tenggara masa itu, dimana Malaka sudah jatuh di bawah kekuasaan Portugis, sehingga pedagang-pedagang yang segan berhubungan dengan Portugis mengalihkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda.

Secara arkeologis, rangkaian perubahan-perubahan kultural di Banten ketika masa pra-kesultanan ditandai oleh artefakta Sunda yang Hindu-Budhistik. Miksic (1989: 6) menyatakan bahwa ketika perubahan tersebut menyentuh tataran sosialisasi Islam, maka terhadap perubahan ikutan unsur kultural yang berasal dari pengaruh Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta panggantian simbol-simbol keagamaan Hindu-Budha dengan Islam. Selanjutnya John N. Miksic menganjurkan agar dikembangkan kajian terhadap himpunan gerabah yang berasal dari masa Hindu Pajajaran.
_________________________________________________________________________________
[1] Menhir, adalah sebuah batu tegak yang diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati arwah orang yang telah meninggal.


[2] Dolmen, atau “meja batu’, adalah susunan batu yang terdiri dari sebuah batu lebar yang ditopang oleh beberapa batu lain sehingga berbentuk seperti meja; berfungsi sebagai temopat untuk mengadakan kegiatan pemujaan arwah leluhur.


[3] Undakan batu adalah sebuah bangunan berundak atau bertingkat yang diatasnya ditempatkan benda-benda yang dikeramatkan atau makam orang yang dikeramatkan; berfungsi sebagai tempat upacara pemujaan arwah leluhur.


[4] Pembuatan dan penggunaan logam sering dikaitkan dengan kebudayaan Dongson.


[5] Sarkofagus, adalah kubur batu yang terdiri dari wadah dan tutup yang bentuk dan ukurannya sama.


[6] Banten Girang, terletak kira-kira 3 km di sebelah selatan kota Serang sekarang, atau 13 km dari Banten Lama.


[7] Menurut Babad Cibeber, Prabu Pucuk Umun ini disebut juga Ratu Ajar Domas


Sumber : E-BOOK MUJAHID CHUDARI
Read More

Rabu, 17 Oktober 2012

Personalia


Personalia

A. DEWAN PEMBINA YAYASAN PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN PLN (YPK-PLN)
Ketua: Ir. Fahmi Mochtar, MM

Ir. Bambang Praptono, MM, MBA
Ir. W. Sulaiman
B. DEWAN PENGAWAS YAYASAN PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN PLN (YPK-PLN)
Ketua: Drs. Beni Hermawan, MBA
Anggota: Drs. Soegito Mugihardjo
Ir. Margo Santoso PS.
C. BADAN PENGURUS YAYASAN PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN PLN (YPK-PLN)
Pelaksana Tugas/Carataker Ketua: Ir. Agus Pribadi
Wakil Ketua: Ir. Bambang Sri Atmojo
Sekretaris: Ir. Hadi Budoyo
Bendahara: Dra. Dewi Hendar Sriningsih
Anggota: Ir. Mohammad Sutirdjo
Bambang Heru Karyono, SE
Bobby Hadi Poernomo, SH

D. BADAN PELAKSANA HARIAN (BPH) STT-PLN

Ketua: Ir. Roikhan, MT
Sekretaris: Ir. Okman Anwar
Anggota: Ir. M. Sulastiyo

Ir. Firman Dini
Ir. Sugeng Rochadi
Ir. Hadi Budoyo
Ir. M. Sutirdjo
Ir. Djiteng Marsudi
E. ANGGOTA DEWAN PENYANTUN
  1. Prof. DR.Ny. Conny Semiawan
  2. Prof. Ir. Abdul Kadir
  3. Ir. Djiteng Marsudi
  4. Ir. R. Semiawan
  5. Ir. Sardjono
  6. Ir. Bagoes Moedijantoro
  7. Ir. Dharmono
  8. DIRUT PT. PLN (Persero)
  9. DIRUT PT. Indonesia Power
  10. DIRUT PT. Indonesia Comnet Plus
  11. DIRUT PT. Pelayanan Listrik Nasional Batam
  12. DIRUT PT. PJB
  13. Kepala Pusat PT. PLN (Persero) Penelitian dan Pengembangan ketenagalistrikan
  14. Kepala Pusat PT.PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan
F. SENAT STT-PLN
Ketua: Dr. Ir. Supriadi Legino, MM, MBA
Sekretaris Senat: Luqman, ST, MKom
Anggota: Prof. Ir. Abdul Kadir
Prof. DR.Ny. Conny Semiawan
DR. Ir. Moh. Hafidz, M.Eng.Sc
Dr. Ir. Uno Bintang Sudibyo
Ir. Budi Santoso
Ir. Imam Subekti, MSc
Ir. Sampurno SP, MT
Ir. Bambang Isty Eddy
Drs. Prayudi, MM., MT
Ir. Sajiharjo, M.Sc, Dipl. HE
M. Syukur Siregar, ST, MM
Prof. DR. Ir. Bambang Suryawan, MT
Ir. Soedibyo, MT
Selly Karmila, S.Kom, MMSI
Ir. Sukandi Mahari
Dewi Arianti, S.Kom, MMSI
Halim Rusjdi ,ST
Notulis RapatYessy Asri, ST, MMSI





G. PIMPINAN PLENO STT-PLN
Ketua: Dr. Ir. Supriadi Legino. MM, MBA
Wakil Ketua I: DR. Ir. Uno Bintang Sudibyo
Wakil Ketua II: Ir. Budi Santoso
Wakil Ketua III: Ir. Bambang Isti Eddy
Wakil Ketua IV: Ir. Imam Subekti, MSc
Ketua Jurusan Teknik Elektro: Ir. Sampurno SP, MT
Ketua Jurusan Teknik Mesin: Ir. Harianto
Ketua Jurusan Teknik Sipil: Ir. Sajiharjo,M.Sc, Dipl.HE
Ketua Jurusan Teknik Informatika: Luqman, ST, MKom
Ketua Program DIII Elektro: Ir. Djoko Paryoto, MT
Ketua Program DIII Mesin: Ir. Hallim Rusdji
Kepala Litbang dan Perpustakaan: DR. Ir. Moh. Hafidz, M.Eng.Sc
Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan: Ir. Setty Limpah
Kepala Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat: Ir. Bambang Joko Purnomo
Kepala Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi: Rakhmadi Irfansyah Putra, MMSI (Pjs)
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia: Wisnu Wiryanto, SH
Kepala Bagian Administrasi Keuangan: Sigit Widiatmoko, SE
Kepala Bagian Sarana dan Rumah TanggaWisnu Wiryanto, SH
Kepala Bagian Koordinasi Kegiatan Mahasiswa: Ir. Teguh Juwono
Kepala Bagian Penjamin Mutu Pendidikan: Drs. Prayudi, MM., MT
H. JURUSAN
Jurusan S1 Teknik Elektro
Ketua: Ir. Sampurno SP, MT
Sekretaris: Syarif Hidayat, S.Si, MT
Jurusan S1 Teknik Mesin
Ketua: Ir. Harianto
Sekretaris
Jurusan S1 Teknik Sipil
Ketua: Ir. Sajiharjo,M.Sc, Dipl.HE
Sekretaris: Abdurrokhman, ST, M.Eng
Jurusan S1 Teknik Informatika
Ketua: Luqman, ST, MKom
Sekretaris: Selly karmila, SKom, M.Si
Program DIII Elektro
Ketua: M. Syukur Siregar, ST, MM
Sekretaris Program: Rinna Haryati, ST
Program DIII Mesin
Ketua: Ir. Halim Rusdji
Sekretaris Program: Ir. Halim Rusjdi

(http://www.sttpln.ac.id/index.php/profile-kmpus/personalia-kampus)
Read more